Minggu, 20 Oktober 2019

Rumah Yang Kesepian

Ini adalah sebuah cerita di dekat rumah saya, tepatnya di barat rumah saya. Ada sebuah rumah tua yang cukup besar. Halaman belakangnya luas, banyak pohon bambunya. Hijau dan rindang suasananya di situ, tapi ini hanya gambaran 20 tahun yang lalu, saat rumah itu masih lengkap penghuninya. Ada ayah, ibu, dan kurang lebih 7 anak, tetapi hanya 3 anaknya disini, sisanya di luar kota.

***

Dulu saat siang hari, kegiatan di rumah itu si anak perempuan yang paling kecil bertubuh gemuk ( sudah mbak-mbak ) selalu membantu ibunya ( saya manggilnya yang uti ) memasak di dapur belakang sambil mendengarkan radio tua. Kalau ayahnya ( saya manggilnya yang kakung ) pasti nonton acara berita siang sambil minum air es kesukaannya. Si anak yang paling kecil ini memang manja, seharusnya sudah menikah dan bekerja, tapi dia di rumah saja. Dan kadang agak sombong sama tetangga sekitar termasuk dengan keluarga saya.

***

Rumah itu masih ramai kala itu, dengan suasana siang yang tenang selalu melekat di ingatan saya. Tak terasa 20 tahun berlalu dengan cepat. Pertama si ayah telah meninggal dunia duluan, di rumah itu pun percekcokan mulai terjadi antar keluarga, tidak lama setelah itu ibu nya pun juga pergi menyusul si ayah. Sejak saat itu percekcokan semakin keras terdengar sampai rumah saya. Tangisan dan bentakan sering terjadi antara si anak perempuan yang paling kecil bertubuh gemuk dengan kakak-kakaknya. Miris juga melihatnya, tapi ada juga tetangga yang senang dengan suasana itu.

***

Saya melihat sendiri sebuah kehancuran keluarga besar, di rumahnya perlahan tapi pasti. Saat ini yang tersisa hanya rumah besar yang terbengkalai. Di tinggal penghuninya, hanya satu orang saja yang menunggu rumah itu, si kakak dari anak perempuan gemuk yang paling kecil itu. Lama kelamaan si anak perempuan gemuk itu tubuhnya juga semakin kurus. Dia juga pergi mencari kerja entah kemana. Tidak tahan dengan kesepian di rumah, dan omongan menyakitkan tetangga sekitar. Kasihan juga melihatnya. Hanya rumah kosong penuh kesepian, dengan halaman belakang yang tandus saat ini. Dapurnya pun mulai lapuk termakan waktu. Tidak ada yang merawat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar