Pertengahan Bulan Desember 2015 kemaren saya merasa sangat jenuh dikantor. Rasanya kangen sama teman-teman seperjuangan di warnet dulu. Ingin rasanya berkumpul brsma tertawa brsama lagi sambil menikmati scangkir kopi susu.
***
Kesempatan akhirnya datang juga libur natal pun saya manfaatkan sebaik mungkin. Sehabis jumatan saya menuju rumah teman saya. Tapi sayangnya teman-teman yang lain pada masuk kerja. Akhirnya kami berdua memutuskan untuk tetap refresing, dan tempat yang kami tuju adalah telaga ngebel.
***
Kurang lebih satu jam an perjalanan dari Madiun-Telaga Ngebel. Walau uang saku sangat-sangat pas-pas an serta bensin setengah liter kami berdua tetap happy fun. Disana saya cuma beli kopi susu dua gelas sama pentol bakso dua bungkus. Tapi rasanya istimewa banget suasana pegunungan, telaga, angin sepoi-sepoi dan udaranya yang sejuk.
***
Mimpi saya kalau liburan yang berkualitas itu adalah liburan orang-orang kaya. Naik jeep mewah, bawa kamera dslr, beli makanan enak-enak tanpa beban. Haruskah saya menunggu semua itu tercapai untuk liburan bersama teman. Apakah masih ada kesempatan untuk berkumpul lagi jika saya menunggu semua itu tercapai. Banyak yang bilang waktu adalah uang, tapi apakah uang bisa mengembalikan waktu yang berlalu.
***
Saya syukuri saja apa yang ada sekarang dan menggunakan semua itu dengan maksimal. Biarlah liburan naik motor tua, kamera hp china, uang saku pas-pas an, kaos jaket celana panjang itu-itu saja tapi saya bahagia dan bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan kebahagiaan ini. See u next time.
Selasa, 05 Januari 2016
APAKAH LIBURAN HARUS MENUNGGU KAYA ?
Kamis, 24 Desember 2015
Minggu, 01 November 2015
Kenangan Bersama Jambu Mete
Inget lagi kenangan saya waktu kecil. Cek this out. :)
Sepulang sekolah SD anak-anak jaman dulu di larang main siang hari dan harus tidur siang biar kalau malam waktu belajar tidak mengantuk kata orang tua. Tapi saya dan teman-teman tetangga dekat saya agak mbandel. Jadi kalau siang di suruh tidur malah sembunyi di dalam markas atau rumah kecil di samping rumah saya dekat pohon pisang yang terbuat dari triplek-triplek bekas yang kami bentuk seperti rumah kecil di dalamnya kami beri kardus-kardus sebagai tikar. Disitu kami bersembunyi setelah makan siang. Kalau orang tua pada nyariin kesitu. Kami alasan tidur didalam. Saat mereka pada pergi, kami menyusun strategi mencari kegiatan untuk mengisi siang hari yang terik itu.
***
Dan akhirnya kami sepakat untuk mencari buah-buah yang bisa dimakan. Yang pasti bukan buah liar tapi milik orang. Saya bawa bambu untuk mengambil buah yang tinggi, teman saya bawa kantong kresek besar buat wadah. Setelah berkeliling lumayan jauh menyusuri rumah-rumah orang kita menemukan pohon jambu mete yang lagi berbuah banyak apalagi banyak yang merah-merah matang. Tanpa pikir panjang kami bertiga mulai memanjat dan mengambil jambu mete itu. Ada yang sudah jatuh di bawah ada yang masih di atas kami ambil sebanyak-banyaknya. Untung orangnya lagi tidur.
***
Setelah kantong kresek terisi penuh kami bertiga kembali ke markas untuk menikmatinya. Sesampai di markas teman-teman saya beristirahat sejenak. Saya ambil ember dari rumah yang berisi air bersih untuk mencuci buah jambu mete serta pisau dan juga mangkuk berisi air garam. Air garam berfungsi untuk menghilangkan getah jambu mete agar tidak gatal di mulut waktu di makan serta menambah rasa. Hhhmmmm manntapppp kami makan bersama di dalam markas.
***
Yang paling saya suka saat bakar biji mete nya. Heemmm rasa nya lezat sekali seperti kacang dewa. :D
Kami buat perapian kecil dari ranting dan kayu bekas ditambah plastik agar cepat jadi bara api. Setelah itu kami bakar biji mete bersama sampai matang. Tanda kalau udah matang keluar gas sama kulitnya hitam menebal. Terus di sisihkan sampai agak dingin baru di pecahin sama batu. Dan siap di makan.
***
Di tahun 2015 ini pohon jambu mete di sekitar tempat saya mulai langka. Sudah pada ditebangi. Padahal kan banyak manfaatnya. Manusia memang tidak pandai bersyukur. Kalau ada lahan yang subur di rumah saya, saya mau menanam jambu mete agar bisa bermanfaat bagi yang membutuhkan. See u next time.
Rabu, 02 September 2015
Warnet Slamet Riyadi Adalah Terminal Ku
Sebagai tempat persinggahan sementara, warnet slamet riyadi adalah tempat kerja saya sementara ini, serta rumah kedua bagi saya juga. Tempat saya bertemu teman-teman baru yang baik dan musuh-musuh baru saya yang membuat saya lebih kuat menjalani hidup, serta bos saya yang baik hati dan tidak sombong.
***
Walaupun tidak buka 24 jam tapi saya pernah nginep di warnet itu. Flas back pas libur lebaran kemarin saat di rumah lagi ada masalah. Saya minggat dari rumah dan tujuan saya adalah warnet tempat saya bekerja, kebetulan masih dalam suasana libur lebaran. Akhirnya saya buka warnetnya mulai jam 7 malam dan klien pun berdatangan walau tidak sebanyak hari biasa. Sampai tak terasa sudah jam 10 malam. Akhirnya saya usir secara halus para klien itu dengan alasan mau tutup ada acara. Setelah mereka pada pergi motor saya masukkan ke dalam, pintu warnet saya kunci dari dalam dan saya ganjel kursi biar aman. Setelah itu saya menata tempat untuk tidur saya.
***
Sungguh sangat berkesan hanya beralaskan kardus-kardus bekas terus bawa bantal kecil sama selimut dari rumah dan hits elektrik pengusir nyamuk. Makannya saya beli 2 bungkus lays besar yang ijo rasa rumput laut karena itu makanan favorit saya, i like potatoes.
***
Perut telah terisi waktu nya tidur. Tapi saya belum bisa tidur, mungkin gak terbiasa beralas lantai. Kalau ada kasur busa lebih mantap (ngarep.com). Untung aja ada wifi, colokan buat cas ada di samping saya, akhirnya saya wifi nan sampai ngantuk, baru bisa tidur jam 3 tengah malam.
***
Bangun-bangun udah jam 6 pagi. Saya intip dari celah pintu suasana luar masih sepi maklumlah masih libur lebaran yang mudik juga belum pada balik. Saya mulai beres-beres, nyapu, ngepel, siram-siram tempat parkir depan coz banyak debu di hempas lalu lalang mobil plat luar kota. Habis itu saya sarapan sebungkus lays besar mau beli nasi jauh. Warnet pun buka lagi mulai jam 7 pagi.
***
Waktu pun terus berjalan gak terasa udah jam 5. Bapak saya sms dan berkata bahwa masalah di rumah sudah pergi situasi aman kembali. Setelah saya total pendapatan warnet usai sholat magrib saya tutup kembali warnetnya. Dan pulang ke rumah dengan perasaan tenang.
***
Itulah sedikit cerita saya tentang warnet slamet riyadi. Tempat yang banyak memberi manfaat bukan hanya saya tapi juga para sales obat, anak kuliahan, anak sekolah, juga guru sekolah, lurah, dll. Karena para operatornya sabar-sabar dan memberi kenyamanan pada klien walaupun kesabaran kami sering di salah gunakan ,semua merasakan manfaatnya. Semoga warnet itu tetap bisa bertahan sampai saya sukses dan punya warnet sendiri.
Minggu, 30 Agustus 2015
Rumpun Bambu Di Sekitar Rumah
Dekat rumah saya dulu banyak tumbuh rumpun bambu, itu sekitar tahun 97an. Ada delapan rumpun bambu seingat saya, dan masing-masing rumpun bambu lebarnya 3-5 meteran berisi batang-batang bambu yang lebat dan kokoh menjulang tinggi. Jika siang hari di sekitar situ udaranya sangat teduh dan adem. Ada juga rumpun bambu sebelah utara bentuknya mirip gua karena terbentuk dari gabungan dua rumpun bambu atau lebih, orang-orang menyebutnya bambrongan. Di dalam bambrongan itu banyak sarang berbagai macam ular seperti ular hijau, cobra, ular kayu, bandotan macan, tali picis dll. Tak jarang ular-ular tersebut masuk rumah saya, tapi untungnya selalu berhasil dibunuh bapak saya. Ayam saya juga pernah buat sarang di dalam bambrongan itu untuk bertelur. Akhirnya di pindahkan bapak ke kandang soalnya di situ sarang banyak ular.
***
Rumpun bambu itu sangat bermanfaat bagi kehidupan kami. Mulai dari dinding rumah kami terbuat dari anyaman bambu, dipan ranjang tempat tidur, meja, tiap penyangga rumah semua kebanyakan terbuat dari bambu yang di ambil dari rumpun bambu sekitar rumah. Kalau musim jangkrik atau gangsir banyak orang-orang yang minta bambu buat rumah jangkrik, kalau bulan ramadhan dulu sering buat mercon bumbung dari bambu sama karbit, buat celengan buat nabung pun juga dari bambu.
***
Tapi di malam hari suasana menjadi seram. Suara-suara bambu itu bergesekan tertiup angin malam menimbulkan suara kreetttt... Kretek... Kretek... Kretek... Apalagi tengah malam semakin menyeramkan. Biasanya rumpun-rumpun bambu di huni kuntilanak. Untungnya saya belum pernah di lihati. Hiiiii jangan sampai.
***
Tahun demi tahun terus berganti, rumpun-rumpun bambu itu satu persatu hilang di telan keserakahan manusia sekitar. Sekarang yang bersisa cuma lahan tandus yang kering. Jika datang musim kemarau panas dan tambah panas dan menjadi tempat yang tidak nyaman lagi.
Rabu, 19 Agustus 2015
Di Bawah Pohon Pisang Pinggir Sawah.
Masa kecil memang penuh kenangan. Saya mau cerita lagi kenangan waktu SD kelas 2 dulu. Sepulang sekolah SD dulu saya lewat sawah. Kadang bareng teman kalau dia tidak di jemput ortu nya tapi lebih sering sendiri. Saat pulang bersama teman saya, dia namanya alex seperti biasa kami lewat sawah. Di tengah perjalanan saat cuaca panas kami memutuskan untuk beristirahat sejenak. Kami memilih berteduh di bawah pohon pinggir sawah. Sambil duduk-duduk menikmati pemandangan sawah di siang hari yang panas. Sawahnya waktu itu di tanami tebu sebagian udah di panen. Ternyata nyaman juga duduk di bawah pohon pisang pinggir sawah. Setengah jam kami berdua melepas lelah terus pulang ke rumah masing-masing.
***
Besok siangnya lagi kami pulang berdua dan berencana mampir lagi di pohon pisang pinggir sawah. Hari itu si alex bawa roti coklat meses di taruh di dalam lepak. Saya cuma bawa air minum. Akhirnya kami makan bersama sambil menikmati angin sepoi-sepoi dan pemandangan siang di sawah. Kami juga mengerjakan PR yang diberikan Bu guru di sekolah tadi, sisanya kami kerjakan di rumah masing-masing. Dan siang itu pun berlalu dengan cepat. Sungguh kebersamaan yang menyenangkan walau pun tidak abadi.
***
Persahabatan kami memudar seiring berjalannya waktu, seiring bertambahnya usia kami. Dan status orang tua kami juga mempengaruhi kepribadiannya. Saya anak orang miskin si alex anak orang kaya yang serba di manja. Lama-lama dia meninggalkan saya memilih bermain dengan anak orang kaya lainnya. Kami pun memilih jalan masing-masing. Walaupun kami sudah berpisah saya harap dia masih mengingat kenangan itu.
Senin, 17 Agustus 2015
Menikmati Siang Hari Di Rumah Pohon
Kamis, 13 Agustus 2015
Lampu Semprong Menemani Malamku
![]() |
| Ilustrasi From Google |
![]() | |
| Radio Saya Jaman Dulu Gambar Dari Google |
![]() |
| Gambar Dari Google |
Sabtu, 08 Agustus 2015
Asiknya Mancing Di blumbang
![]() |
| Ilustrasi From Google |
Awalnya bapak mau ngajak saya mancing di sungai dan lewat jalan setapak di area tanah kosong itu. Terus bapak saya iseng-iseng cabut beberapa tanaman eceng gondok di blumbang itu eh ternyata ada airnya dan terlihat lalu lalang ikan-ikan di bawahnya. Airnya tidak terlihat karena di tumbuhi banyak eceng gondok. Sungguh penemuan yang luar biasa. Saya masih heran darimana asal ikan-ikan itu. Kok bisa blumbang ini ada ikannya apa dari dalam tanah ya. Akhirnya saya pun mancing di situ sama bapak sampai magrib dapat satu ember cat penuh. Dan kami pun pulang menuju rumah. Ikan-ikan itu saya masukkan ke bak mandi semen yang udah tidak terpakai lagi. Saya tampung semuanya di situ. Kebanyakan yang di dapat ikan betik atau betok. Ikan lele dan ikan gabusnya cuma sedikit jarang terpancing. Besoknya lagi sore hari saat matahari nggak terlalu terik saya mancing di blumbang itu lagi tapi kali ini mancing sendiri nggak sama bapak terus begitu selama seminggu. Di sekolah saya bercerita pada teman saya dan sepulang sekolah teman saya pun rela jauh-jauh datang ke rumah saya karena pengen mancing di blumbang itu. Ikan-ikan hasil mancing saya jual ke anak-anak kecil di kampung saya harganya 500an. Lumayan buat jajan di sekolah. Sebulan telah berlalu kabar tentang blumbang ikan di dekat rumahku menyebar pada orang-orang kampung. Dan akhirnya mereka banyak yang mancing ke blumbang situ. Sampai suatu hari waktu saya mau mancing di situ suasana sepi biasanya orang-orang kampung udah mendahului saya. Saya lihat di blumbang airnya agak berbusa gitu dan tanaman eceng gondoknya ilang semua terus bau obat yang menyengat. Oh ternyata blumbangnya ada yang motas. Tega banget yang melakukan ini. Merusak sumber habitat ikan-ikan liar. Akibatnya saya nggak bisa mancing lagi di situ. Dan lama kelamaan blumbang itu mengering sudah tidak ada lagi tanaman eceng gondok yang tumbuh. Kalau pun musim hujan datang yang ada cuma kodok dan ular jadi penghuni blumbang itu. Dasar manusia perusak.
Jumat, 07 Agustus 2015
Warung Tepo Di belakang Sekolah Di pinggir Sawah
![]() |
| Ilustrasi From Google |
Rabu, 05 Agustus 2015
Kenangan Bersama Radio Walkman
![]() |
| Walkman Pertama Saya Tanpa Loudspeaker Cuma Bisa Pake Hetset |
![]() |
| Ilustrasi Walkman Kesayangan Saya Dulu Yang Ada Loudspeakernya |







