Tampilkan postingan dengan label Kenangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kenangan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Januari 2016

APAKAH LIBURAN HARUS MENUNGGU KAYA ?

Pertengahan Bulan Desember 2015 kemaren saya merasa sangat jenuh dikantor. Rasanya kangen sama teman-teman seperjuangan di warnet dulu. Ingin rasanya berkumpul brsma tertawa brsama lagi sambil menikmati scangkir kopi susu.
***
Kesempatan akhirnya datang juga libur natal pun saya manfaatkan sebaik mungkin. Sehabis jumatan saya menuju rumah teman saya. Tapi sayangnya teman-teman yang lain pada masuk kerja. Akhirnya kami berdua memutuskan untuk tetap refresing, dan tempat yang kami tuju adalah telaga ngebel.
***
Kurang lebih satu jam an perjalanan dari Madiun-Telaga Ngebel. Walau uang saku sangat-sangat pas-pas an serta bensin setengah liter kami berdua tetap happy fun. Disana saya cuma beli kopi susu dua gelas sama pentol bakso dua bungkus. Tapi rasanya istimewa banget suasana pegunungan, telaga, angin sepoi-sepoi dan udaranya yang sejuk.
***
Mimpi saya kalau liburan yang berkualitas itu adalah liburan orang-orang kaya. Naik jeep mewah, bawa kamera dslr, beli makanan enak-enak tanpa beban. Haruskah saya menunggu semua itu tercapai untuk liburan bersama teman. Apakah masih ada kesempatan untuk berkumpul lagi jika saya menunggu semua itu tercapai. Banyak yang bilang waktu adalah uang, tapi apakah uang bisa mengembalikan waktu yang berlalu.
***
Saya syukuri saja apa yang ada sekarang dan menggunakan semua itu dengan maksimal. Biarlah liburan naik motor tua, kamera hp china, uang saku pas-pas an, kaos jaket celana panjang itu-itu saja tapi saya bahagia dan bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan kebahagiaan ini. See u next time.


Minggu, 01 November 2015

Kenangan Bersama Jambu Mete

Inget lagi kenangan saya waktu kecil. Cek this out. :)

Sepulang sekolah SD anak-anak jaman dulu di larang main siang hari dan harus tidur siang biar kalau malam waktu belajar tidak mengantuk kata orang tua. Tapi saya dan teman-teman tetangga dekat saya agak mbandel. Jadi kalau siang di suruh tidur malah sembunyi di dalam markas atau rumah kecil di samping rumah saya dekat pohon pisang yang terbuat dari triplek-triplek bekas yang kami bentuk seperti rumah kecil di dalamnya kami beri kardus-kardus sebagai tikar. Disitu kami bersembunyi setelah makan siang. Kalau orang tua pada nyariin kesitu. Kami alasan tidur didalam. Saat mereka pada pergi, kami menyusun strategi mencari kegiatan untuk mengisi siang hari yang terik itu.

***

Dan akhirnya kami sepakat untuk mencari buah-buah yang bisa dimakan. Yang pasti bukan buah liar tapi milik orang. Saya bawa bambu untuk mengambil buah yang tinggi, teman saya bawa kantong kresek besar buat wadah. Setelah berkeliling lumayan jauh menyusuri rumah-rumah orang kita menemukan pohon jambu mete yang lagi berbuah banyak apalagi banyak yang merah-merah matang. Tanpa pikir panjang kami bertiga mulai memanjat dan mengambil jambu mete itu. Ada yang sudah jatuh di bawah ada yang masih di atas kami ambil sebanyak-banyaknya. Untung orangnya lagi tidur.

***

Setelah kantong kresek terisi penuh kami bertiga kembali ke markas untuk menikmatinya. Sesampai di markas teman-teman saya beristirahat sejenak. Saya ambil ember dari rumah yang berisi air bersih untuk mencuci buah jambu mete serta pisau dan juga mangkuk berisi air garam. Air garam berfungsi untuk menghilangkan getah jambu mete agar tidak gatal di mulut waktu di makan serta menambah rasa. Hhhmmmm manntapppp kami makan bersama di dalam markas.

***

Yang paling saya suka saat bakar biji mete nya. Heemmm rasa nya lezat sekali seperti kacang dewa. :D
Kami buat perapian kecil dari ranting dan kayu bekas ditambah plastik agar cepat jadi bara api. Setelah itu kami bakar biji mete bersama sampai matang. Tanda kalau udah matang keluar gas sama kulitnya hitam menebal. Terus di sisihkan sampai agak dingin baru di pecahin sama batu. Dan siap di makan.

***

Di tahun 2015 ini pohon jambu mete di sekitar tempat saya mulai langka. Sudah pada ditebangi. Padahal kan banyak manfaatnya. Manusia memang tidak pandai bersyukur. Kalau ada lahan yang subur di rumah saya, saya mau menanam jambu mete agar bisa bermanfaat bagi yang membutuhkan. See u next time.

Rabu, 02 September 2015

Warnet Slamet Riyadi Adalah Terminal Ku

Sebagai tempat persinggahan sementara, warnet slamet riyadi adalah tempat kerja saya sementara ini, serta rumah kedua bagi saya juga. Tempat saya bertemu teman-teman baru yang baik dan musuh-musuh baru saya yang membuat saya lebih kuat menjalani hidup, serta bos saya yang baik hati dan tidak sombong.

***

Walaupun tidak buka 24 jam tapi saya pernah nginep di warnet itu. Flas back pas libur lebaran kemarin saat di rumah lagi ada masalah. Saya minggat dari rumah dan tujuan saya adalah warnet tempat saya bekerja, kebetulan masih dalam suasana libur lebaran. Akhirnya saya buka warnetnya mulai jam 7 malam dan klien pun berdatangan walau tidak sebanyak hari biasa. Sampai tak terasa sudah jam 10 malam. Akhirnya saya usir secara halus para klien itu dengan alasan mau tutup ada acara. Setelah mereka pada pergi motor saya masukkan ke dalam, pintu warnet saya kunci dari dalam dan saya ganjel kursi biar aman. Setelah itu saya menata tempat untuk tidur saya.

***

Sungguh sangat berkesan hanya beralaskan kardus-kardus bekas terus bawa bantal kecil sama selimut dari rumah dan hits elektrik pengusir nyamuk. Makannya saya beli 2 bungkus lays besar yang ijo rasa rumput laut karena itu makanan favorit saya, i like potatoes.

***

Perut telah terisi waktu nya tidur. Tapi saya belum bisa tidur, mungkin gak terbiasa beralas lantai. Kalau ada kasur busa lebih mantap (ngarep.com). Untung aja ada wifi, colokan buat cas ada di samping saya, akhirnya saya wifi nan sampai ngantuk, baru bisa tidur jam 3 tengah malam.

***

Bangun-bangun udah jam 6 pagi. Saya intip dari celah pintu suasana luar masih sepi maklumlah masih libur lebaran yang mudik juga belum pada balik. Saya mulai beres-beres, nyapu, ngepel, siram-siram tempat parkir depan coz banyak debu di hempas lalu lalang mobil plat luar kota. Habis itu saya sarapan sebungkus lays besar mau beli nasi jauh. Warnet pun buka lagi mulai jam 7 pagi.

***

Waktu pun terus berjalan gak terasa udah jam 5. Bapak saya sms dan berkata bahwa masalah di rumah sudah pergi situasi aman kembali. Setelah saya total pendapatan warnet usai sholat magrib saya tutup kembali warnetnya. Dan pulang ke rumah dengan perasaan tenang.

***

Itulah sedikit cerita saya tentang warnet slamet riyadi. Tempat yang banyak memberi manfaat bukan hanya saya tapi juga para sales obat, anak kuliahan, anak sekolah, juga guru sekolah, lurah, dll. Karena para operatornya sabar-sabar dan memberi kenyamanan pada klien walaupun kesabaran kami sering di salah gunakan ,semua merasakan manfaatnya. Semoga warnet itu tetap bisa bertahan sampai saya sukses dan punya warnet sendiri.



Minggu, 30 Agustus 2015

Rumpun Bambu Di Sekitar Rumah

Dekat rumah saya dulu banyak tumbuh rumpun bambu, itu sekitar tahun 97an. Ada delapan rumpun bambu seingat saya, dan masing-masing rumpun bambu lebarnya 3-5 meteran berisi batang-batang bambu yang lebat dan kokoh menjulang tinggi. Jika siang hari di sekitar situ udaranya sangat teduh dan adem. Ada juga rumpun bambu sebelah utara bentuknya mirip gua karena terbentuk dari gabungan dua rumpun bambu atau lebih, orang-orang menyebutnya bambrongan. Di dalam bambrongan itu banyak sarang berbagai macam ular seperti ular hijau, cobra, ular kayu, bandotan macan, tali picis dll. Tak jarang ular-ular tersebut masuk rumah saya, tapi untungnya selalu berhasil dibunuh bapak saya. Ayam saya juga pernah buat sarang di dalam bambrongan itu untuk bertelur. Akhirnya di pindahkan bapak ke kandang soalnya di situ sarang banyak ular.

***

Rumpun bambu itu sangat bermanfaat bagi kehidupan kami. Mulai dari dinding rumah kami terbuat dari anyaman bambu, dipan ranjang tempat tidur, meja, tiap penyangga rumah semua kebanyakan terbuat dari bambu yang di ambil dari rumpun bambu sekitar rumah. Kalau musim jangkrik atau gangsir banyak orang-orang yang minta bambu buat rumah jangkrik, kalau bulan ramadhan dulu sering buat mercon bumbung dari bambu sama karbit, buat celengan buat nabung pun juga dari bambu.

***

Tapi di malam hari suasana menjadi seram. Suara-suara bambu itu bergesekan tertiup angin malam menimbulkan suara kreetttt... Kretek... Kretek... Kretek... Apalagi tengah malam semakin menyeramkan. Biasanya rumpun-rumpun bambu di huni kuntilanak. Untungnya saya belum pernah di lihati. Hiiiii jangan sampai.

***

Tahun demi tahun terus berganti, rumpun-rumpun bambu itu satu persatu hilang di telan keserakahan manusia sekitar. Sekarang yang bersisa cuma lahan tandus yang kering. Jika datang musim kemarau panas dan tambah panas dan menjadi tempat yang tidak nyaman lagi.

Rabu, 19 Agustus 2015

Di Bawah Pohon Pisang Pinggir Sawah.

Masa kecil memang penuh kenangan. Saya mau cerita lagi kenangan waktu SD kelas 2 dulu. Sepulang sekolah SD dulu saya lewat sawah. Kadang bareng teman kalau dia tidak di jemput ortu nya tapi lebih sering sendiri. Saat pulang bersama teman saya, dia namanya alex seperti biasa kami  lewat sawah. Di tengah perjalanan saat cuaca panas kami memutuskan untuk beristirahat sejenak. Kami memilih berteduh di bawah pohon pinggir sawah. Sambil duduk-duduk menikmati pemandangan sawah di siang hari yang panas. Sawahnya waktu itu di tanami tebu sebagian udah di panen. Ternyata nyaman juga duduk di bawah pohon pisang pinggir sawah. Setengah jam kami berdua melepas lelah terus pulang ke rumah masing-masing.

***

Besok siangnya lagi kami pulang berdua dan berencana mampir lagi di pohon pisang pinggir sawah. Hari itu si alex bawa roti coklat meses di taruh di dalam lepak. Saya cuma bawa air minum. Akhirnya kami makan bersama sambil menikmati angin sepoi-sepoi dan pemandangan siang di sawah. Kami juga mengerjakan PR yang diberikan Bu guru di sekolah tadi, sisanya kami kerjakan di rumah masing-masing. Dan siang itu pun berlalu dengan cepat. Sungguh kebersamaan yang menyenangkan walau pun tidak abadi.

***

Persahabatan kami memudar seiring berjalannya waktu, seiring bertambahnya usia kami. Dan status orang tua kami juga mempengaruhi kepribadiannya. Saya anak orang miskin si alex anak orang kaya yang serba di manja. Lama-lama dia meninggalkan saya memilih bermain dengan anak orang kaya lainnya. Kami pun memilih jalan masing-masing. Walaupun kami sudah berpisah saya harap dia masih mengingat kenangan itu.

Senin, 17 Agustus 2015

Menikmati Siang Hari Di Rumah Pohon

Sekitar tahun 2007an waktu jaman SMP. Saya dan teman-teman di kampung mempunyai ide untuk membuat rumah pohon sebagai tempat berkumpul bersama, kami menyebutnya markas. Kebetulan di dekat rumah saya ada pohon waru dengan ketinggian kira-kira 5 meteran. Persiapan untuk membuat rumah pohon teman saya mencari papan-papan bekas di rumahnya, seperti triplek bekas atap rumah yang copot, pintu bekas yang gak terpakai lagi, dan spanduk-spanduk bekas yang ada di pinggir-pinggir jalan kami ambil diam-diam. Setelah semua bahan terkumpul saya dan teman-teman mulai  membangun rumah pohon itu. Saya bagian naik ke atas karena saya lebih ahli kalau manjat pohon. Teman yang lain di bawah membawakan dan menyalurkan peralatan yang diperlukan seperti pisau, cuter, tang, tali, paku, dan kawat. Sebelumnya kami harus membuat pondasi dari batang-batang bambu sebagai penopang beban. Untuk alas pijakan rumah pohon kami pasang pintu bekas yang gak kepakai dari gudang dekat rumah teman saya, kayu pintu itu lumayan tebal, keras, dan kuat sebagai pelengkap kami lapisi karung-karung beras yang fungsinya sebagai tikar. Atap dan sisi dindingnya kami pasangi triplek dan spanduk yang di ikat dengan kawat maupun tali. Rumah pohon pun siap di gunakan. Kami pun segera naik ke atas untuk mencoba rumab pohon kami menggunakan tangga bambu yang saya pinjam dari bapak saya yang biasa buat benerin genteng. Enak sekali suasana diatas rumah pohon. Tidak terasa hari sudah sore kami pun mengakhiri sejenak acara kumpul bersama di rumah pohon setelah itu menuju lapangan untuk bermain sepak bola.
***
Besoknya lagi sepulang sekolah jam 12 siang. Habis makan siang saya naik ke rumah pohon sambil menunggu kedatangan teman-teman. Di rumah pohon saya tiduran sambil menikmati angin semilir berhembus lembut, walau panas terik tapi pohon waru tempat penopang rumah pohon tetap terasa teduh karena daunnya lumayan banyak tapi tidak terlalu rimbun takutnya ada ular hijau. Dari atas semua dapat terlihat, dari kejauhan saya bisa melihat orang lewat di jalan kampung saya mulai dari anak-anak yang pulang sekolah, penjual makanan keliling. Tapi mereka yang lewat tidak menyadari saya di rumah pohon karena jaraknya lumayan jauh.
***
Teman saya pun akhirnya datang semua dan naik ke atas satu per satu. Dalam perbincangan anak-anak SMP itu muncul ide untuk iuran anggota markas buat beli radio walkman yang ada loudspekernya buat hiburan kalau lagi ngumpul di rumah pohon. Ide itu pun akhirnya terlaksana juga. Kami membeli radio walkman kecil seharga 8ribuan di alun-alun madiun. Belinya sama-sama naik sepeda boncengan.
***
Suasana di rumah pohon pun jadi tambah asik dengan alunan lagu-lagu remaja. Kami dengerin bersama sambil tiduran sambil menunggu sore hari untuk bermain sepak bola di lapangan. Begitu terus setiap hari. Rumah pohon itu tempat berkumpul kami serta menyatukan semangat kami. Sampai suatu hari salah satu dahan pohon waru penopang rumah pohon kami mulai retak dan akhirnya patah, hari naas itu pun terjadi. Dua teman saya yang duduk di ujung tepi ikut jatuh di ikuti robohnya pondasi serta tempat pijakan. Satu teman saya jatuh sampai ke tanah yang satunya lagi masih sempat gelantungan. Untungnya mereka tidak ada yang luka serius dan tidak patah tulang. Sungguh pengalaman yang luar biasa. Itulah akhir dari markas rumah pohon kami yang penuh kenangan.

Kamis, 13 Agustus 2015

Lampu Semprong Menemani Malamku

Ilustrasi From Google

Malam ini gak bisa tidur, mending nulis blog aja. Malam yang sunyi hanya jam dinding yang berdetak keras saking sepi nya ni malam. Sambil memandangi lampu neon kuning 5 watt yang ada di kamar saya. Kalau memandangi lampu neon kuning jadi inget nyala lampu semprong isi minyak tanah dulu waktu rumah saya belum pasang listrik saat hidup keluarga saya masih susah. Bagi keluarga saya listrik merupakan barang mewah, apalagi tv. Yang ada hanya radio tua besar merek nasional pake dua buah baterai abc besar yang menghibur sehari-hari. Pagi siang malam sampai pagi lagi begitu seterusnya.

Radio Saya Jaman Dulu Gambar Dari Google
Tapi saya berharap dan berdoa dewasa nanti bisa merubah kehidupan keluarga saya menjadi lebih baik. Makanya saya tetep semangat sekolah. Saat itu saya masih TK mau masuk SD. Waktu malam tiba lampu semprong di nyalakan ibu saya untuk penerangan di dalam rumah dan untuk penerangan belajar. Lampu semprongnya dulu ada 3 yang satu besar untuk belajar saya dan yang dua agak kecil buat ruang kamar sama dapur. Kala itu rumah saya masih berdinding anyaman bambu atau gedek. Lampu semprong itu ada puterannya buat manjangin sumbunya, kalau mau terang tinggal panjangin sumbunya, kalau mau tidur tinggal di pendekin sumbu nya biar agak redup. Walaupun belajar pakai lampu semprong tetep saya syukuri kok bahkan menurut saya lebih menjaga konsentrasi apalagi di dukung suasana tenang yang jarang di temukan sekarang ini. Kata orang sih kalau belajar pakai lampu semprong itu bisa buat mata rabun, buktinya mata saya masih tajam setajam pisau dapur masih normal sampai sekarang. Setelah selesai belajar lampu semprong itu di cantol kan di tiang bambu yang ada pakunya supaya penerangan merata di dalam rumah saya. Belajar udah ngerjain PR juga udah waktu nya nonton tv,  walau di rumah belum punya tv bapak dan ibu saya ngajak saya nonton di rumah tetangga dan selalu pindah-pindah. Karena tetangga tidak semua baik mau di nunuti nonton. Ada yang merasa terganggu kalau keluarga saya mau nunut nonton. Kadang dari jauh sebelum kami datang pintu rumahnya pada ditutup rapet2. Sungguh sakitnya tuh disini. Ya mau gimana lagi nasib orang miskin. Keluarga saya baru mampu pasang listrik sekitar tahun 99an tapi baru listriknya aja belum ada tv nya jadi masih terpaksa nunut nonton tv ke tetangga. Walau begitu saya udah bersyukur keluarga saya ada kamajuan bisa pasang listrik belajar jadi makin terang. Dan lampu semprong pun tergantikan tugasnya. Tapi tidak kami buang, ibu saya meletakkannya tiang bambu dapur yang ada pakunya buat cantolan. Dalam hati saya berterima kasih pada lampu semprong itu. Bagaimanapun juga lampu itu telah lama berjasa bagi keluarga kami, menemani belajar malam saya sampai tidur. Baru di tahun 2002 keluarga saya dapat bantuan tv dari pakde saya atau kakak bapak saya yang tinggal di jawa barat. Paketan tv itu datang hari sabtu siang tahin 2002 lupa bulannya. Mereknya LG Dino ukuran 14 inc.

Gambar Dari Google
Senengnya bukan maen gak perlu lagi nonton di tetangga. Akhirnya tahun demi tahun kehidupan keluarga saya ada kemajuan dari dinding anyaman bambu udah di tembok kasar, dari lampu semprong udah ganti lampu listrik, udah ada tv di rumah gak perlu nunut nonton ke tetangga lagi. Alhamdulillahhirobbil alamin. Tapi ada yang saya kangeni saat suasana rumah dulu. Yaitu ketenangan yang tidak saya temui di suasana rumah sekarang. Good night see u next time.

Sabtu, 08 Agustus 2015

Asiknya Mancing Di blumbang

Ilustrasi From Google

Sore-sore yang cerah gini jadi inget mancing waktu saya masih SD dulu sekitar tahun 99-20an. Mancingnya bukan disungai lo tapi di blumbang. Blumbang adalah sebutan basa jawa untuk kolam, empang, atau bekas cerukan lain, ada yang buatan dan ada yang terbentuk alami. Kali ini saya akan bercerita tentang blumbang di dekat rumah saya kebetulan blumbangnya itu terbentuk alami bukan buatan orang. Jaraknya dari rumah saya cuma 20 meteran. Blumbangnya terletak di tanah kosong selatan area kuburan. Ukuran blumbangnya pun tidak terlalu besar. Tanah kosong itu di tumbuhi rumput-rumput hijau, semak-semak, dan pepohonan lain. Sering buat gembala kambing-kambing saya karena rumputnya segar-segar. Disitu blumbangnya tidak hanya satu tapi tiga. Sebelumnya orang-orang di kampung tidak ada yang peduli sama blumbang di tanah kosong itu.
Awalnya bapak mau ngajak saya mancing di sungai dan lewat jalan setapak di area tanah kosong itu. Terus bapak saya iseng-iseng cabut beberapa tanaman eceng gondok di blumbang itu eh ternyata ada airnya dan terlihat lalu lalang ikan-ikan di bawahnya. Airnya tidak terlihat karena di tumbuhi banyak eceng gondok. Sungguh penemuan yang luar biasa. Saya masih heran darimana asal ikan-ikan itu. Kok bisa blumbang ini ada ikannya apa dari dalam tanah ya. Akhirnya saya pun mancing di situ sama bapak sampai magrib dapat satu ember cat penuh. Dan kami pun pulang menuju rumah. Ikan-ikan itu saya masukkan ke bak mandi semen yang udah tidak terpakai lagi. Saya tampung semuanya di situ. Kebanyakan yang di dapat ikan betik atau betok. Ikan lele dan ikan gabusnya cuma sedikit jarang terpancing. Besoknya lagi sore hari saat matahari nggak terlalu terik saya mancing di blumbang itu lagi tapi kali ini mancing sendiri nggak sama bapak terus begitu selama seminggu. Di sekolah saya bercerita pada teman saya dan sepulang sekolah teman saya pun rela jauh-jauh datang ke rumah saya karena pengen mancing di blumbang itu. Ikan-ikan hasil mancing saya jual ke anak-anak kecil di kampung saya harganya 500an. Lumayan buat jajan di sekolah. Sebulan telah berlalu kabar tentang blumbang ikan di dekat rumahku menyebar pada orang-orang kampung. Dan akhirnya mereka banyak yang mancing ke blumbang situ. Sampai suatu hari waktu saya mau mancing di situ suasana sepi biasanya orang-orang kampung udah mendahului saya. Saya lihat di blumbang airnya agak berbusa gitu dan tanaman eceng gondoknya ilang semua terus bau obat yang menyengat. Oh ternyata blumbangnya ada yang motas. Tega banget yang melakukan ini. Merusak sumber habitat ikan-ikan liar. Akibatnya saya nggak bisa mancing lagi di situ. Dan lama kelamaan blumbang itu mengering sudah tidak ada lagi tanaman eceng gondok yang tumbuh. Kalau pun musim hujan datang yang ada cuma kodok dan ular jadi penghuni blumbang itu. Dasar manusia perusak.

Jumat, 07 Agustus 2015

Warung Tepo Di belakang Sekolah Di pinggir Sawah


Ilustrasi From Google

Malam ini keinget sama jaman SD dulu. Kangen jajan yang enak-enak. Tapi saya gak ngebahas tentang jajanan waktu SD kali ini tapi saya mau cerita tentang warung tepo di belakang sekolah saya dan letaknya di pinggir sawah karena belakang sekolah saya adalah sawah yang lumayan luas. Saya kalau waktu pulang sekolah juga lewat sawah situ. Tentang warung tepo, mungkin ada yang belum tau tepo, tepo itu sejenis ketupat bisa di bilang begitu karena bahan dan rasa nya juga sama cuma beda nama. Makannya di campur potongan tahu tempe campur toge, kubis, dan sedikit seledri kemudian di siram sambal kecap pedas di taburi kacang yang di ulek ( di tumbuk ) sebagai pelengkap di tambah kerupuk bandung. Perkiraan saya warung tepo itu sudah berdiri sejak lama sekali entah kapan saya masuk SD situ udah ada warungnya mungkin turun temurun. Sebenarnya yang jualan orangnya nggak begitu higienis atau basa jawa nya kurang resikan dan juga galak. Yang jualan namanya mbok ben (mbok dalam basa jawa berarti ibu). Tapi buat anak-anak seusia saya yang penting perut kenyang dan rasanya cocok tapi kalau orang tua saya tau pasti di marahi karena dirumah udah di nasehati untuk tidak jajan sembarangan. Tapi yang membuat warung itu tetap ada yang beli mungkin dari suasananya yang mendukung walau yang jualan banyak kurangnya. Suasana di sekitar situ sejuk tenang jauh dari hiruk pikuk kendaraan karena tempatnya mewah (mepet sawah). Warung tepo itu sangat sederhana terbuat dari papan-papan kayu bekas, atapnya seng yang udah berkarat lantai dalamnya tanah seperti rumah di pedesaan. Pembelinya biasanya anak-anak di SD saya juga guru-gurunya, para petani di sawah, juga penggembala kambing di sekitar sawah sering mampir kesitu. Menu detailnya di warung itu yaitu tepo tahu tempe harganya 1000an, tempe tahu sayur (diatas tempe atau tahu di kasih toge kubis seledri trus disiram sambal kecap plus kacang ulek) 300an, kerupuk sambal (kerupuk bandung disiram sambal kecap pedas plus kacang ulek) 100an. Minumannya es teh, teh anget, kopi hitam kopinya di giling sendiri dulu jarang kopi sachet, terus wedang jahe. Saya kangen suasana warungnya yang sederhana melambangkan kerja keras orang desa. Kalau sudah sore warung itu tutup terus mbok yang jualan pulang naik sepeda onta tua yang udah karatan sambil pake caping (topi petani). Setelah saya lulus dari SD situ saya udah jarang lewat sawah deket warung itu karena SMP saya lumayan jauh jadi harus naik sepeda gak lewat situ lagi. Tak terasa waktu cepat sekali berlalu. Saya udah lulus SMP mau masuk STM. Kabarnya tahun 2007 waktu itu sawahnya kena gusur mau dibangun LP (Lembaga Permasyarakatan) khusus narkoba dan warung tepo di pinggir sawah itu pun kena gusur entah sekarang pindah kemana atau mungkin nggak jualan lagi. Sungguh warung yang penuh kenangan.

Rabu, 05 Agustus 2015

Kenangan Bersama Radio Walkman

Di tahun 2000an sampe 2008 masa jayanya radio walkman karena yang punya HP sangatlah jarang waktu itu dan kalau punya HP nya juga masih polyponik apalagi yang ada kameranya cuma orang kaya yang punya. Mempunyai radio walkman saat itu rasanya sangat-sangat bahagia.Walkman pertama saya dibelikan bapak gak ada loudspeakernya kurang asik

Walkman Pertama Saya Tanpa
Loudspeaker Cuma Bisa Pake Hetset

Walkman kedua di beliin ibu saya pas rekreasi di malang harganya 20rb an warna merah trus bentuknya menarik kalau nyari frekuensinya tinggal pencet-pencet tombol aja.Yang ini walkman kedua saya.

Ilustrasi Walkman Kesayangan Saya Dulu Yang Ada Loudspeakernya

Saat pulang sekolah pas SMP waktu itu naik sepeda capek terus sampe rumah ganti baju, cuci tangan, makan, terus tiduran di kamar sambil dengerin radio walkman saya. Dengerinnya gak pake hetset tapi langsung loudspeker dengan volume yg pas tidak terlalu keras. Stasiun radio madiun favorit saya dulu DCS FM sama Pro 2 FM kalau pas siang lagu-lagunya pas buat anak-anak remaja seusia saya. Dengerin sampai tidur pulas gak terasa udah sore. Temen saya datang ke rumah ngebangunin ngajak main bola di lapangan bersama temen-temen yang lain. Pulangnya mandi, makan terus belajar juga di temen i radio walkman kesayangan saya. Kadang pas terbangun waktu subuh saya juga nyalain radio saya tapi pake hetset biar gak ganggu yang lain. Acara waktu subuh yang saya sukai yaitu pas ceramahnya KH. ZAINUDIN M.Z dai sejuta umat itu. Ceramahnya ada diselingi cerita-cerita yang lucu tapi masih dalam lingkup islam. Pokoknya dia selalu menemani. Jadi jarang ada kata galau atau kesepian saat itu. Radio walkman saya pake baterai sanyo yang biasanya buat balap tamiya jadi awet kalau habis tinggal cas. Seiring berjalannya waktu radio walkman saya rusak entah jatuh atau gimana saya agak lupa pokoknya spekernya gak bisa bunyi lagi terus saya buang deh. Sebagai gantinya bapak saya membelikan radio kotak kecil spekernya lebih besar terus kalau cari frekuensi harus manual geser-geser tuning tapi saya seneng radio saya yang lama. Setelah di belikan yang baru saya malah jarang dengerin radio lagi. Mungkin bentuknya kurang menarik.