Selasa, 30 Juni 2026

CERPEN LEGENDARIS " ROBOHNYA SURAU KAMI "

                           


Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis, Tuan akan berhenti di dekat pasar. Maka kira-kira sekilometer dari pasar akan sampailah Tuan di jalan kampungku. Pada simpang kecil ke kanan, simpang yang kelima, membeloklah ke jalan sempit itu. Dan di ujung jalan nanti akan Tuan temui sebuah surau tua. Di depannya ada kolam ikan, yang airnya mengalir melalui empat buah pancuran mandi.

Dan di pelataran kiri surau itu akan Tuan temui seorang tua yang biasanya duduk di sana dengan segala tingkah ketuaannya dan ketaatannya beribadat. Sudah bertahun-tahun ia sebagai garin, penjaga surau itu. Orang-orang memanggilnya Kakek.

Sebagai penjaga surau, Kakek tidak mendapat apa-apa. Ia hidup dari sedekah yang dipungutnya sekali se-Jumat. Sekali enam bulan ia mendapat seperempat dari hasil pemungutan ikan mas dari kolam itu. Dan sekali setahun orang-orang mengantarkan fitrah Id kepadanya. Tapi sebagai garin ia tak begitu dikenal. Ia lebih di kenal sebagai pengasah pisau. Karena ia begitu mahir dengan pekerjaannya itu. Orang-orang suka minta tolong kepadanya, sedang ia tak pernah minta imbalan apa-apa. Orang-orang perempuan yang minta tolong mengasahkan pisau atau gunting, memberinya sambal sebagai imbalan. Orang laki-laki yang minta tolong, memberinya imbalan rokok, kadang-kadang uang. Tapi yang paling sering diterimanya ialah ucapan terima kasih dan sedikit senyum.

Tapi kakek ini sudah tidak ada lagi sekarang. Ia sudah meninggal. Dan tinggallah surau itu tanpa penjaganya. Hingga anak-anak menggunakannya sebagai tempat bermain, memainkan segala apa yang disukai mereka. Perempuan yang kehabisan kayu bakar, sering suka mencopoti papan dinding atau lantai di malam hari.

Jika Tuan datang sekarang, hanya akan menjumpai gambaran yang mengesankan suatu kesucian yang bakal roboh. Dan kerobohan itu kian hari kian cepat berlangsungnya. Secepat anak-anak berlari di dalamnya, secepat perempuan mencopoti pekayuannya. Dan yang terutama ialah sifat masa bodoh manusia sekarang, yang tak hendak memelihara apa yang tidak di jaga lagi.

Dan biang keladi dari kerobohan ini ialah sebuah dongengan yang tak dapat disangkal kebenarannya. Beginilah kisahnya.

Sekali hari aku datang pula mengupah Kakek. Biasanya Kakek gembira menerimaku, karena aku suka memberinya uang. Tapi sekali ini Kakek begitu muram. Di sudut benar ia duduk dengan lututnya menegak menopang tangan dan dagunya. Pandangannya sayu ke depan, seolah-olah ada sesuatu yang yang mengamuk pikirannya. Sebuah belek susu yang berisi minyak kelapa, sebuah asahan halus, kulit sol panjang, dan pisau cukur tua berserakan di sekitar kaki Kakek. Tidak pernah aku melihat Kakek begitu durja dan belum pernah salamku tak disahutinya seperti saat itu. Kemudian aku duduk disampingnya dan aku jamah pisau itu. Dan aku tanya Kakek, "Pisau siapa, Kek?"

"Ajo Sidi."

"Ajo Sidi?"

Kakek tak menyahut. Maka aku ingat Ajo Sidi, si pembual itu. Sudah lama aku tak ketemu dia. Dan aku ingin ketemu dia lagi. Aku senang mendengar bualannya. Ajo Sidi bisa mengikat orang-orang dengan bualannya yang aneh-aneh sepanjang hari. Tapi ini jarang terjadi karena ia begitu sibuk dengan pekerjaannya. Sebagai pembual, sukses terbesar baginya ialah karena semua pelaku-pelaku yang diceritakannya menjadi model orang untuk diejek dan ceritanya menjadi pameo akhirnya. Ada-ada saja orang-orang di sekitar kampungku yang cocok dengan watak pelaku-pelaku ceritanya. Ketika sekali ia menceritakan bagaimana sifat seekor katak, dan kebetulan ada pula seorang yang ketagihan menjadi pemimpin berkelakuan seperti katak itu, maka untuk selanjutnya pimpinan tersebut kami sebut pimpinan katak.

Tiba-tiba aku ingat lagi pada Kakek dan kedatang Ajo Sidi kepadanya. Apakah Ajo Sidi telah membuat bualan tentang Kakek? Dan bualan itukah yang mendurjakan Kakek? Aku ingin tahu. Lalu aku tanya Kakek lagi. "Apa ceritanya, Kek?"


"Siapa?"

"Ajo Sidi."

"Kurang ajar dia," Kakek menjawab.

"Kenapa?"

"Mudah-mudahan pisau cukur ini, yang kuasah tajam-tajam ini, menggoroh tenggorokannya."

"Kakek marah?"

"Marah? Ya, kalau aku masih muda, tapi aku sudah tua. Orang tua menahan ragam. Sudah lama aku tak marah-marah lagi. Takut aku kalau imanku rusak karenanya, ibadatku rusak karenanya. Sudah begitu lama aku berbuat baik, beribadat, bertawakal kepada Tuhan. Sudah begitu lama aku menyerahkan diri kepada-Nya. Dan Tuhan akan mengasihi orang yang sabar dan tawakal."

Ingin tahuku dengan cerita Ajo Sidi yang memurungkan Kakek jadi memuncak. Aku tanya lagi Kakek, "Bagaimana katanya, Kek?"

Tapi Kakek diam saja. Berat hatinya bercerita barangkali. Karena aku telah berulang-ulang bertanya, lalu ia yang bertanya padaku, "Kau kenal padaku, bukan? Sedari kau kecil aku sudah disini. Sedari mudaku, bukan? Kau tahu apa yang kulakukan semua, bukan? Terkutukkah perbuatanku? Dikutuki Tuhankah semua pekerjaanku?"

Tapi aku tak perlu menjawabnya lagi. Sebab aku tahu, kalau Kakek sudah membuka mulutnya, dia takkan diam lagi. Aku biarkan Kakek dengan pertanyaannya sendiri.

"Sedari muda aku di sini, bukan? Tak kuingat punya isteri, punya anak, punya keluarga seperti orang lain, tahu? Tak kupikirkan hidupku sendiri. Aku tak ingin cari kaya, bikin rumah. Segala kehidupanku, lahir batin, kuserahkan kepada Allah Subhanahu wataala. Tak pernah aku menyusahkan orang lain. Lalat seekor enggan aku membunuhnya. Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk. Umpan neraka. Marahkah Tuhan kalau itu yang kulakukan, sangkamu? Akan dikutukinya aku kalau selama hidupku aku mengabdi kepada-Nya? Tak kupikirkan hari esokku, karena aku yakin Tuhan itu ada dan pengasih dan penyayang kepada umatnya yang tawakal. Aku bangun pagi-pagi. Aku bersuci. Aku pukul beduk membangunkan manusia dari tidurnya, supaya bersujud kepada-Nya. Aku sembahyang setiap waktu. Aku puji-puji Dia. Aku baca Kitab-Nya. Alhamdulillah kataku bila aku menerima karunia-Nya. Astagfirullah kataku bila aku terkejut. Masya Allah kataku bila aku kagum. Apa salahnya pekerjaanku itu? Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk."

Ketika Kakek terdiam agak lama, aku menyelakan tanyaku, "Ia katakan Kakek begitu, Kek?"

"Ia tak mengatakan aku terkutuk. Tapi begitulah kira-kiranya."

Dan aku melihat mata Kakek berlinang. Aku jadi belas kepadanya. Dalam hatiku aku mengumpati Ajo Sidi yang begitu memukuli hati Kakek. Dan ingin tahuku menjadikan aku nyinyir bertanya. Dan akhirnya Kakek bercerita lagi.

"Pada suatu waktu, ‘kata Ajo Sidi memulai, ‘di akhirat Tuhan Allah memeriksa orang-orang yang sudah berpulang. Para malaikat bertugas di samping-Nya. Di tangan mereka tergenggam daftar dosa dan pahala manusia. Begitu banyak orang yang diperiksa. Maklumlah dimana-mana ada perang. Dan di antara orang-orang yang diperiksa itu ada seirang yang di dunia di namai Haji Saleh. Haji Saleh itu tersenyum-senyum saja, karena ia sudah begitu yakin akan di masukkan ke dalam surga. Kedua tangannya ditopangkan di pinggang sambil membusungkan dada dan menekurkan kepala ke kuduk. Ketika dilihatnya orang-orang yang masuk neraka, bibirnya menyunggingkan senyum ejekan. Dan ketika ia melihat orang yang masuk ke surga, ia melambaikan tangannya, seolah hendak mengatakan ‘selamat ketemu nanti’. Bagai tak habis-habisnya orang yang berantri begitu panjangnya. Susut di muka, bertambah yang di belakang. Dan Tuhan memeriksa dengan segala sifat-Nya.

Akhirnya sampailah giliran Haji Saleh. Sambil tersenyum bangga ia menyembah Tuhan. Lalu Tuhan mengajukan pertanyaan pertama.

‘Engkau?’

‘Aku Saleh. Tapi karena aku sudah ke Mekah, Haji Saleh namaku.’

‘Aku tidak tanya nama. Nama bagiku, tak perlu. Nama hanya buat engkau di dunia.’

‘Ya, Tuhanku.’

‘apa kerjamu di dunia?’

‘Aku menyembah Engkau selalu, Tuhanku.’

‘Lain?’

‘Setiap hari, setiap malam. Bahkan setiap masa aku menyebut-nyebut nama-Mu.’

‘Lain.’

‘Ya, Tuhanku, tak ada pekerjaanku selain daripada beribadat menyembah-Mu, menyebut-nyebut nama-Mu. Bahkan dalam kasih-Mu, ketika aku sakit, nama-Mu menjadi buah bibirku juga. Dan aku selalu berdoa, mendoakan kemurahan hati-Mu untuk menginsafkan umat-Mu.’

‘Lain?’

Haji Saleh tak dapat menjawab lagi. Ia telah menceritakan segala yang ia kerjakan. Tapi ia insaf, pertanyaan Tuhan bukan asal bertanya saja, tentu ada lagi yang belum di katakannya. Tapi menurut pendapatnya, ia telah menceritakan segalanya. Ia tak tahu lagi apa yang harus dikatakannya. Ia termenung dan menekurkan kepalanya. Api neraka tiba-tiba menghawakan kehangatannya ke tubuh Haji Saleh. Dan ia menangis. Tapi setiap air matanya mengalir, diisap kering oleh hawa panas neraka itu.

‘Lain lagi?’ tanya Tuhan.

‘Sudah hamba-Mu ceritakan semuanya, o, Tuhan yang Mahabesar, lagi Pengasih dan Penyayang, Adil dan Mahatahu.’ Haji Saleh yang sudah kuyu mencobakan siasat merendahkan diri dan memuji Tuhan dengan pengharapan semoga Tuhan bisa berbuat lembut terhadapnya dan tidak salah tanya kepadanya.

Tapi Tuhan bertanya lagi: ‘Tak ada lagi?’

‘O, o, ooo, anu Tuhanku. Aku selalu membaca Kitab-Mu.’

‘Lain?’

‘Sudah kuceritakan semuanya, o, Tuhanku. Tapi kalau ada yang lupa aku katakan, aku pun bersyukur karena Engkaulah Mahatahu.’

‘Sungguh tidak ada lagi yang kaukerjakan di dunia selain yang kauceritakan tadi?’

‘Ya, itulah semuanya, Tuhanku.’

‘Masuk kamu.’

Dan malaikat dengan sigapnya menjewer Haji Saleh ke neraka. Haji Saleh tidak mengerti kenapa ia di bawa ke neraka. Ia tak mengerti apa yang di kehendaki Tuhan daripadanya dan ia percaya Tuhan tidak silap.

Alangkah tercengang Haji Saleh, karena di neraka itu banyak teman-temannya di dunia terpanggang hangus, merintih kesakitan. Dan ia tambah tak mengerti dengan keadaan dirinya, karena semua orang yang dilihatnya di neraka itu tak kurang ibadatnya dari dia sendiri. Bahkan ada salah seorang yang telah sampai empat belas kali ke Mekah dan bergelar syekh pula. Lalu Haji Saleh mendekati mereka, dan bertanya kenapa mereka dinerakakan semuanya. Tapi sebagaimana Haji Saleh, orang-orang itu pun, tak mengerti juga.

‘Bagaimana Tuhan kita ini?’ kata Haji Saleh kemudian, ‘Bukankah kita di suruh-Nya taat beribadat, teguh beriman? Dan itu semua sudah kita kerjakan selama hidup kita. Tapi kini kita dimasukkan-Nya ke neraka.’

‘Ya, kami juga heran. Tengoklah itu orang-orang senegeri dengan kita semua, dan tak kurang ketaatannya beribadat,’ kata salah seorang diantaranya.

‘Ini sungguh tidak adil.’

‘Memang tidak adil,’ kata orang-orang itu mengulangi ucapan Haji Saleh.

‘Kalau begitu, kita harus minta kesaksian atas kesalahan kita.’

‘Kita harus mengingatkan Tuhan, kalau-kalau Ia silap memasukkan kita ke neraka ini.’

‘Benar. Benar. Benar.’ Sorakan yang lain membenarkan Haji Saleh.

‘Kalau Tuhan tak mau mengakui kesilapan-Nya, bagaimana?’ suatu suara melengking di dalam kelompok orang banyak itu.

‘Kita protes. Kita resolusikan,’ kata Haji Saleh.

‘Apa kita revolusikan juga?’ tanya suara yang lain, yang rupanya di dunia menjadi pemimpin gerakan revolusioner.

‘Itu tergantung kepada keadaan,’ kata Haji Saleh. ‘Yang penting sekarang, mari kita berdemonstrasi menghadap Tuhan.’

‘Cocok sekali. Di dunia dulu dengan demonstrasi saja, banyak yang kita perolah,’ sebuah suara menyela.

‘Setuju. Setuju. Setuju.’ Mereka bersorak beramai-ramai.

Lalu mereka berangkatlah bersama-sama menghadap Tuhan.

Dan Tuhan bertanya, ‘Kalian mau apa?’

Haji Saleh yang menjadi pemimpin dan juru bicara tampil ke depan. Dan dengan suara yang menggeletar dan berirama rendah, ia memulai pidatonya: ‘O, Tuhan kami yang Mahabesar. Kami yang menghadap-Mu ini adalah umat-Mu yang paling taat beribadat, yang paling taat menyembahmu. Kamilah orang-orang yang selalu menyebut nama-Mu, memuji-muji kebesaran-Mu,mempropagandakan keadilan-Mu, dan lain-lainnya. Kitab-Mu kami hafal di luar kepala kami. Tak sesat sedikitpun kami membacanya. Akan tetapi, Tuhanku yang Mahakuasa setelah kami Engkau panggil kemari, Engkau memasukkan kami ke neraka. Maka sebelum terjadi hal-hal yang tak diingini, maka di sini, atas nama orang-orang yang cinta pada-Mu, kami menuntut agar hukuman yang Kaujatuhkan kepada kami ke surga sebagaimana yang Engkau janjikan dalam Kitab-Mu.’

‘Kalian di dunia tinggal di mana?’ tanya Tuhan.

‘Kami ini adalah umat-Mu yang tinggal di Indonesia, Tuhanku.’

‘O, di negeri yang tanahnya subur itu?’

‘Ya, benarlah itu, Tuhanku.’

‘Tanahnya yang mahakaya raya, penuh oleh logam, minyak, dan berbagai bahan tambang lainnya, bukan?’

‘Benar. Benar. Benar. Tuhan kami. Itulah negeri kami.’ Mereka mulai menjawab serentak. Karena fajar kegembiraan telah membayang di wajahnya kembali. Dan yakinlah mereka sekarang, bahwa Tuhan telah silap menjatuhkan hukuman kepada mereka itu.

‘Di negeri mana tanahnya begitu subur, sehingga tanaman tumbuh tanpa di tanam?’

‘Benar. Benar. Benar. Itulah negeri kami.’

‘Di negeri, di mana penduduknya sendiri melarat?’

‘Ya. Ya. Ya. Itulah dia negeri kami.’

‘Negeri yang lama diperbudak negeri lain?’

‘Ya, Tuhanku. Sungguh laknat penjajah itu, Tuhanku.’

‘Dan hasil tanahmu, mereka yang mengeruknya, dan diangkut ke negerinya, bukan?’

‘Benar, Tuhanku. Hingga kami tak mendapat apa-apa lagi. Sungguh laknat mereka itu.’

‘Di negeri yang selalu kacau itu, hingga kamu dengan kamu selalu berkelahi, sedang hasil tanahmu orang lain juga yang mengambilnya, bukan?’

‘Benar, Tuhanku. Tapi bagi kami soal harta benda itu kami tak mau tahu. Yang penting bagi kami ialah menyembah dan memuji Engkau.’

‘Engkau rela tetap melarat, bukan?’

‘Benar. Kami rela sekali, Tuhanku.’

‘Karena keralaanmu itu, anak cucumu tetap juga melarat, bukan?’

‘Sungguhpun anak cucu kami itu melarat, tapi mereka semua pintar mengaji. Kitab-Mu mereka hafal di luar kepala.’

‘Tapi seperti kamu juga, apa yang disebutnya tidak di masukkan ke hatinya, bukan?’

‘Ada, Tuhanku.’

‘Kalau ada, kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Sedang harta bendamu kaubiarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk di sembah saja. Tidak. Kamu semua mesti masuk neraka. hai, Malaikat, halaulah mereka ini kembali ke neraka. Letakkan di keraknya!"

Semua menjadi pucat pasi tak berani berkata apa-apa lagi. Tahulah mereka sekarang apa jalan yang diridai Allah di dunia. Tapi Haji Saleh ingin juga kepastian apakah yang akan di kerjakannya di dunia itu salah atau benar. Tapi ia tak berani bertanya kepada Tuhan. Ia bertanya saja pada malaikat yang menggiring mereka itu.

‘Salahkah menurut pendapatmu, kalau kami, menyembah Tuhan di dunia?’ tanya Haji Saleh.

‘Tidak. Kesalahan engkau, karena engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri. Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat sembahyang. Tapi engkau melupakan kehidupan kaummu sendiri, melupakan kehidupan anak isterimu sendiri, sehingga mereka itu kucar-kacir selamanya. Inilah kesalahanmu yang terbesar, terlalu egoistis. Padahal engkau di dunia berkaum, bersaudara semuanya, tapi engkau tak mempedulikan mereka sedikit pun.’

Demikianlah cerita Ajo Sidi yang kudengar dari Kakek. Cerita yang memurungkan Kakek.

Dan besoknya, ketika aku mau turun rumah pagi-pagi, istriku berkata apa aku tak pergi menjenguk.

"Siapa yang meninggal?" tanyaku kagut.

"Kakek."

"Kakek?"

"Ya. Tadi subuh Kakek kedapatan mati di suraunya dalam keadaan yang mengerikan sekali. Ia menggoroh lehernya dengan pisau cukur."

"Astaga! Ajo Sidi punya gara-gara," kataku seraya cepat-cepat meninggalkan istriku yang tercengang-cengang.

Aku cari Ajo Sidi ke rumahnya. Tapi aku berjumpa dengan istrinya saja. Lalu aku tanya dia.

"Ia sudah pergi," jawab istri Ajo Sidi.

"Tidak ia tahu Kakek meninggal?"

"Sudah. Dan ia meninggalkan pesan agar dibelikan kain kafan buat Kakek tujuh lapis."

"Dan sekarang," tanyaku kehilangan akal sungguh mendengar segala peristiwa oleh perbuatan Ajo Sidi yang tidak sedikit pun bertanggung jawab, "dan sekarang kemana dia?"

"Kerja."

"Kerja?" tanyaku mengulangi hampa.

"Ya, dia pergi kerja."

Selasa, 07 April 2026

DARUMA DELIVERY


DARUMA DELIVERY

KAMI SIAP MENGANTAR PAKET ANDA 

DENGAN AMAN, CEPAT DAN TERPERCAYA

FAST RESPON ORDER 0895410868360

Selasa, 31 Maret 2026

BERDYS SHOP 1991

RUMAH PORTABLE PROTOTYPE

RUMAH TIPE 36


MELAYANI JASA DESAIN GAMBAR BENDA, SPARE PART, DENAH RUMAH 2D/3D MENGGUNAKAN AUTOCAD/SKETCHUP. 
HARGA 50 RIBU/DESAIN GAMBAR. 
ORDER WA 0895410868360 


=========================================

JUAL KAYU BAKAR 
UNTUK CAMPING & ACARA OUTDOOR
AREA KOTA MADIUN

HANYA 50 RIBU/IKAT ISI 15 😊😊👍👍


ROBOT MASA DEPAN PEMBASMI KELAPARAN


Ini adalah ide saya untuk masa depan yang lebih bahagia dan sejahtera, semoga saja ada yang mewujudkannya di masa depan nanti. Ini hanya ilustrasi saja, mungkin nanti akan lebih di sempurnakan lagi di masa depan. Ini adalah robot pembasmi kelaparan, robot ini adalah solusi terbaik menolong orang-orang di daerah terpencil yang terdampak krisis dan kelaparan. 

***

Robot yang berbentuk seperti mesin penjual minuman ini sudah di upgrade lebih canggih lagi. Di lengkapi dengan empat lengan robotic yang fleksibel dan serbaguna. Lengan-lengan ini berfungsi untuk membela diri dari para manusia bejat yang suka merusak. Lengan-lengan robot ini juga bisa menyemburkan api dan juga listrik stan gun untuk membela diri dari ancaman manusia bejat perusak. Selain itu robot ini juga di lengkapi panel surya untuk energi mandiri, speaker full bass untuk berbicara tegas, dan juga baling-baling drone untuk berpindah tempat dan posisi.

***

Robot ini akan di tempatkan di berbagai sudut daerah yang krisis makanan dan butuh bantuan untuk pulih. Dengan kendali pada server utama robot-robot ini akan disebar seperti di rumah sakit darurat daerah konflik, daerah kering dan tandus, daerah yang kena bencana dan lain-lain.

***

Dan yang terpenting dari robot ini adalah fitur ai canggih yang bisa berkomunikasi dengan manusia. Bisa menyeleksi manusia yang pantas menerima bantuan. Dan yang tidak kalah canggih adalah fitur pengisian makanan via teleportasi. Makanan dan minuman bisa di kirim dari server via teleportasi langsung ke dalam robot ini sesuai request kebutuhan di lapangan. Jadi tidak perlu lagi robot ini terbang mengambil makanan dan minuman ke suplayer atau food bank.

***

Orang-orang yang kelaparan bisa langsung mengantri di depan robot ini untuk mendapatkan makanan dan minuman gratis. Makanan dan minumannya pun bukan kaleng-kaleng biasa, yang pasti layak penuh gizi dan bervitamin. Semakin banyak di produksi dan disebar ke berbagai penjuru, robot ini akan membereskan semua masalah kelaparan dengan adil dan tepat sasaran. Dengan begitu masa depan manusia akan bahagia dan sejahtera.

Kamis, 26 Februari 2026

MENOLAK TIDUR SIANG

Itu dulu jaman saya masih TK sampai SD kelas 6 an. Waktu itu kegiatan bermain anak-anak seusia saya sangat banyak sekali, temannya pun juga banyak dari berbagai macam penjuru kampung, waktu itu tidak ada penghalang berupa status sosial kaya atau miskin. Semua bermain bersama, yang ada hanya anak baik dan anak nakal. 

***

Orang tua dulu mewajibkan anak-anaknya tidur siang agar malamnya tidak ngantuk waktu belajar. Tapi nama nya juga anak-anak lebih senang bermain bersama teman-teman sebaya nya. Dulu belakang rumah saya adalah titik kumpul bermain ceria di siang hari. Setelah pulang sekolah dan makan siang saya menunggu mereka. Untungnya orang tua saya sabar jadi tidak terlalu memaksa untuk tidur siang. Ada beberapa teman-teman saya yang orang tua nya galak, mereka di paksa tidur siang, pintu jendela di tutup. Tapi semua itu bukan halangan bagi anak-anak bandel jaman itu, mereka kabur lewat jendela, demi bisa main bersama.

***

Setelah kabur pasti menuju titik kumpul untuk bermain. Agenda bermain saat itu pun banyak sekali. Salah satunya yang saya suka adalah rujakan gratis bersama. Kurang lebih ada lima teman yang berkumpul saat itu, kami semua berjalan-jalan bersama menuju kampung sebelah untuk mencari pohon-pohon buah, seperti jambu, pepaya, mangga, jambu mete, dll. Yang sering kami dapatkan saat itu jambu biasa kadang jambu bangkok yang besar, pepaya dan juga mangga. Itu pun kadang kami tidak ijin kepada yang punya, jadi main ambil saja, kebetulan saya dan teman saya pandai memanjat pohon.

***

Setelah dapat beberapa buah, kami kembali ke titik kumpul. Lalu saya menyelinap ke dapur rumah saya, mengambil gula, garam, cabe, cobek, pisau dll. Kami pun rujakan bersama sampai kenyang. Sungguh nikmat sekali kebersamaan waktu itu.

***

Sore nya pulang ke rumah masing-masing, mandi, setelah itu kumpul lagi di titik lain. Sambil beli jajan murah meriah tahun 90an di warung kampung. Magrib pulang ke rumah masih-masing dan belajar. Besok bertemu lagi membuat agenda baru. Sungguh luar biasa waktu itu, bahagia yang tidak akan terlupakan. Walau pun sekarang di antara kami sudah ada yang meninggal dunia, ada yang masih terpuruk menjalani kehidupan, ada yang sibuk dengan urusan keluarga barunya, dll. Kehidupan akan terus berputar meninggalkan kenangan.

Jumat, 13 Februari 2026

AYO JAGA HUTAN SEKITAR KITA

Saya menghimbau kepada semua teman teman di seluruh indonesia


Kepada teman teman yang rumah nya dekat dengan hutan atau di sekitar hutan


Jaga lah selalu kelestarian hutan sekitar kalian


Jangan sampai di rusak oleh orang orang serakah yang tidak bertanggung jawab


Karena kalau hutan di sekitar kalian rusak, yang kena bencana nya juga kalian, keluarga dan warga sekitar situ


Jangan sampai menjadi seperti bencana banjir lumpur di aceh dan sekitarnya


Mulai saat ini kalian yang rumah nya dekat hutan, perlu sesekali patroli melihat ke dalam hutan


Tandai pohon pohon besarnya


Kalau perlu kasih baner atau papan nama di pohon pohon besar tersebut


Contoh nya dengan tulisan pohon keramat desa konoha, punden keramat desa konoha, di larang menebang pohon di hutan ini


Dengan begitu para perusak hutan akan berpikir ulang sebelum menebangi pohon di hutan tersebut


Selain itu saat kalian patroli mengecek keadaan hutan sekitar kalian


Perlu juga membawa hp buat dokumentasi


Kalau ada yang nekat menebangi pohon sembarangan


Bisa kalian rekam dan viral kan


Bisa juga buat laporan kepada aktivis lingkungan untuk di proses hukum lebih lanjut


Buat kalian yang punya drone bisa juga patroli menggunakan drone dari atas, untuk mengecek keadaan hutan sekitar kalian


Apakah ada aktivitas pembalakan liar terselubung atau tidak 


Sekian saran dari saya

Selasa, 27 Januari 2026

EFEK PLACEBO BAIK UNTUK KEHIDUPAN


Awal bulan januari yang lalu, saya membantu bapak saya memangkas pohon sawo depan rumah. Pohonnya lumayan besar dan kayu nya alot. Dengan golok yang baru saya beli memudahkan untuk memotong motong dahan pohon sawo yang alot penuh getah itu. Golok baru saya lumayan tajam daripada pakai arit bapak saya yang agak berkarat dan suka lepas gagangnya.

***

Setelah dahan-dahan pohon sawo jatuh dari atas, saya potong-potong dan menariknya ke belakang rumah untuk di bakar. Ibu saya bagian menyapu daun-daunnya setelah selesai kegiatan itu. Kemudian saya membersihkan golok saya dan mengasahnya sebentar, mencucinya juga karena banyak getah yang menempel, lalu menyimpannya kembali ke dalam kamar saya.

***

Malamnya baru terasa, kedua tangan saya rasanya sakit sekali njarem, otot-ototnya seperti mau meledak. Mungkin di sebabkan benturan dari gagang golok saat menebang dahan yang besar dan alot. Dan saya pun tidak terbiasa olahraga. Dengan kedua tangan yang sakit, saya mengira malam itu akan terganggu tidur saya.

***

Akhirnya saya teringat ada film yang membahas tentang efek placebo, dan juga perkataan pesulap merah tentang efek placebo. Saya coba terapkan efek itu ke dalam pikiran saya. Saya ambil segelas air minum biasa. Lalu saya sugesti kan ke dalam pikiran saya, bahwa saya telah meminum air ajaib yang bisa menyembuhkan apa pun. Setelah saya minum, efeknya luar biasa, rasa sakit di kedua tangan saya perlahan mereda. Dan saya bisa tidur malam itu.

***

Saya pikir-pikir memang penting sekali efek placebo dalam kehidupan ini, asal tidak melupakan bahwa semua itu atas izin Allah SWT. Bahkan di anime-anime jepang pun banyak tokoh yang menggunakan efek placebo agar menjadi kuat dalam mencapai tujuan. Contohnya kapten luffy dengan topi jeraminya, zoro pendekar pedang dengan bandana nya, sanji dengan rokok dan korek apinya. Ya begitu lah efek placebo dalam kehidupan ini. 
 

Minggu, 18 Januari 2026

CEK OMBAK PERMINTAAN PASAR

 


Saya mau jualan tapi belum ada barangnya dan belum tau permintaan pasarnya banyak atau sepi

Lalu saya cuma membuat poster promosi untuk mengecek permintaan pasar

Kalau pun ada 1 kali permintaan saya beralasan bahwa barang habis

Apakah yang saya lakukan sudah benar menurut kamu ???


Ide kamu sebenarnya nggak salah arah, tapi cara eksekusinya perlu sedikit diperbaiki biar lebih jujur, aman, dan efektif.

👍 Yang sudah benar dari kamu
Kamu lagi melakukan yang namanya validasi pasar (market validation).

Ini bagus banget, bahkan banyak pebisnis besar melakukan hal yang sama sebelum produksi.
Artinya kamu:

Nggak asal stok barang
Mau cek dulu apakah ada demand
Hemat modal (ini penting banget di awal)

👉 Ini mindset yang sudah benar.

⚠️ Yang perlu diperbaiki
Masalahnya ada di bagian ini:
“Kalau ada yang tanya, bilang barang habis”

Ini berisiko:
❌ Bisa bikin orang nggak percaya kalau ketahuan
❌ Kamu kehilangan calon pembeli yang sebenarnya serius
❌ Brand kamu jadi kurang kredibel dari awal

💡 Cara yang lebih bagus (dan tetap aman)
Daripada bilang “habis”, kamu bisa pakai strategi ini:

1. Pre-order (RECOMMENDED)
Bilang jujur:
“Produk ini sistem pre-order ya, lagi dibuka pemesanan”
Keuntungannya:
Kamu tetap validasi pasar
Bisa kumpulkan uang dulu baru produksi
Lebih profesional

2. Survey / Test Market
Contoh:
“Lagi riset produk nih, kalau tersedia kalian tertarik beli nggak?”
Atau pakai polling di:
Instagram story
WhatsApp
TikTok

3. Limited Release / Coming Soon
Contoh:
“Coming soon 🔥, lagi siapin stok. DM kalau mau jadi prioritas”
Ini bikin:
Rasa penasaran
Kesan produk “diburu”

🔥 Strategi simpel buat kamu sekarang
Kalau aku jadi kamu, aku akan:
Buat poster (yang sudah kamu lakukan 👍)
Tambahin tulisan:
“Pre-order”
atau “Coming Soon”

Kumpulkan:
Chat
Minat orang
Kalau ada 5–10 orang minat → lanjut jualan beneran

🎯 Kesimpulan jujur
✔️ Ide kamu: benar (validasi pasar)
❌ Cara jawab “barang habis”: kurang tepat
✅ Solusi: pakai pre-order atau coming soon (lebih profesional & jujur)


Rabu, 07 Januari 2026

ATI-ATI KUALAT

Bagi kalian yang suka nyinyirin orang laen, saya peringatkan untuk stop mulai hari ini. Jangan lagi nyinyir/mengolok-olok/menghina/meremehkan orang lain sebelum kalian menyesal seumur hidup. Setiap kehidupan orang berbeda-beda, begitu juga dengan masalahnya masing-masing. Tidak perlu sok jadi yang paling tinggi lalu menginjak yang di rasa rendah.

***

Langsung saja saya perjelas bahaya nya menghina orang lain, apalagi orang yang di hina tersebut dalam keadaan terpuruk. Ada sebuah peringatan bahwa doa orang teraniaya, tersakiti, tercurangi dsb itu sangat ampuh di kabulkan Tuhan Sang Pencipta. Dan sangat berhubungan dengan karma atau balasan yang akan diterima oleh orang yang suka menghina.

***

Contoh nyata yang saya alami sendiri, di saat kondisi saya lagi terpuruk begini. Ada beberapa tetangga di lingkungan kampung tempat tinggal saya, yang menghina dan meremehkan saya karena saya tidak segera menikah. Dengan omongan yang tidak mengenakkan mereka dengan bangga nya menghina saya. Tak lama berselang, mungkin 2 bulanan, mereka di panggil ke rahmatullah. Jarak pemanggilannya hanya beberapa bulan. Dan itu saya amati sendiri. Ternyata karma itu nyata dan bekerja dengan sendirinya.

***

Maka dari itu kita tidak boleh saling menghina, tidak boleh menghina orang sakit, tidak boleh menghina pengangguran, tidak boleh menghina orang yang belum menikah dll. Fokus saja pada kehidupan diri sendiri dan keluarga. Untuk menjadi lebih baik lagi ke depannya. Jangan menantang karma. Ati-ati kualat.